Ketika Perjalanan Liburan Berubah Jadi Ketegangan
Seorang Selebgram WNI yang enggan disebutkan namanya mengalami peristiwa mengejutkan saat berada di Myanmar. Awalnya, ia hanya berniat menikmati suasana eksotis di Yangon, namun tak disangka, perjalanannya berubah menjadi penuh tekanan ketika dirinya dipanggil ke sebuah markas intelijen setempat.
Transisi dari situasi santai ke suasana mencekam terjadi begitu cepat. Saat berada di sebuah kafe, ia dihampiri dua pria sipil yang mengaku sebagai petugas keamanan negara. Tanpa banyak penjelasan, ia diminta ikut ke sebuah lokasi rahasia untuk “wawancara singkat.”
Proses Interogasi yang Menegangkan
Sesampainya di lokasi, selebgram tersebut langsung dibawa ke ruang sempit tanpa diberi akses komunikasi. Proses interogasi berlangsung selama hampir dua jam, dengan berbagai pertanyaan yang bersifat pribadi dan politis. Ia dicecar soal aktivitas di media sosial, koneksi dengan tokoh politik, hingga tujuan sebenarnya datang ke Myanmar.
Para petugas intel bahkan meminta akses ke akun media sosialnya, termasuk pesan-pesan pribadi. Dalam kondisi penuh tekanan, ia mencoba tetap tenang dan menjelaskan bahwa kunjungannya murni untuk konten pariwisata. Namun, suasana tetap tidak bersahabat.
Tuduhan Tak Berdasar yang Mengguncang Mental
Menurut pengakuannya, para intel mencurigai bahwa ia merupakan agen luar negeri yang menyamar sebagai turis. Tuduhan tersebut tentu saja tak berdasar, namun cukup untuk membuatnya merasa terintimidasi.
“Semua gerak-gerik saya diperiksa. Mereka seperti sudah memantau saya sejak tiba di bandara,” ujarnya dalam sebuah unggahan yang kini sudah dihapus.
Setelah interogasi panjang, ia akhirnya dibebaskan tanpa penjelasan detail. Namun, paspor sempat ditahan selama beberapa jam sebelum dikembalikan menjelang malam hari.
Reaksi Netizen dan Pemerintah
Kabar ini langsung menyebar di berbagai platform digital. Banyak netizen yang menyuarakan kekhawatiran atas perlakuan Myanmar terhadap warga negara asing yaitu terutama Selebgram WNI yang dikenal hanya aktif di ranah hiburan dan gaya hidup.
Kementerian Luar Negeri Indonesia pun turun tangan. Dalam pernyataannya di Kemlu menyatakan tengah berkoordinasi dengan KBRI Yangon hanya untuk memastikan keamanan dan hak hukum WNI tersebut.
Langkah cepat pemerintah dinilai sebagai bentuk perlindungan negara terhadap warganya di luar negeri. Terlebih, kasus ini menjadi perhatian publik karena melibatkan figur dengan ribuan pengikut di media sosial.
Media Sosial Jadi Alat Pantauan Baru?
Insiden ini membuka mata banyak orang bahwa aktivitas media sosial kini menjadi salah satu fokus pengawasan intelijen. Konten yang terlihat biasa saja di mata kita juga bisa dianggap sangat mencurigakan oleh pihak lainnya yang tergantung konteks dan wilayah hukum yang berlaku.
Selebgram WNI itu mengaku trauma dengan kejadian tersebut. Ia menyatakan akan lebih berhati-hati dalam melakukan perjalanan ke negara-negara dengan regulasi ketat terhadap media dan kebebasan berekspresi.
Apa yang Bisa Dipelajari dari Kasus Ini?
Pertama, penting bagi setiap WNI, terutama figur publik, untuk memahami kondisi politik dan keamanan negara tujuan. Kedua, selalu periksa panduan perjalanan dari Kemlu atau KBRI setempat sebelum berangkat. Dan terakhir, waspadai konten digital yang dapat menimbulkan persepsi negatif di luar negeri.
Kasus Selebgram WNI ini bukan hanya tentang pengalaman pribadi, melainkan juga cerminan dinamika internasional yang semakin kompleks. Saat dunia makin terhubung secara digital, batas antara privasi, keamanan, dan kecurigaan negara makin kabur.