UNESCO

AS Ancam Tinggalkan UNESCO: Dunia Hadapi Dampak Serius

Rencana Amerika Serikat untuk kembali meninggalkan UNESCO mengundang perhatian dunia. Sebagai salah satu negara pendiri dan penyumbang terbesar, keluarnya AS berpotensi mengguncang kestabilan organisasi internasional yang berfokus pada pendidikan, ilmu pengetahuan, dan budaya ini.

Lebih dari sekadar penarikan keanggotaan, langkah ini membawa ancaman besar terhadap kolaborasi global dalam memajukan perdamaian dan pembangunan berkelanjutan.

Mengapa AS Pertimbangkan Keluar Lagi?

Setelah bergabung kembali pada tahun 2023, AS kini mempertimbangkan ulang keanggotaannya. Alasan yang dikemukakan berkisar pada ketidaksepakatan politik, pendanaan, dan prioritas diplomatik. Pemerintah AS menilai beberapa program UNESCO tidak lagi sejalan dengan kebijakan luar negerinya.

Namun, di sisi lain, keputusan sepihak ini menciptakan ketidakseimbangan baru. Sebagai contoh, proyek-proyek pelestarian budaya, pendidikan global, serta riset ilmiah lintas negara bisa terhambat karena hilangnya kontribusi dana dan pengaruh diplomatik dari AS.

Transisi Dunia Tanpa Dukungan AS di UNESCO

Jika AS benar-benar keluar, konsekuensinya akan menjalar ke berbagai sektor. Negara-negara berkembang yang mengandalkan program pendidikan dari UNESCO akan kehilangan dukungan penting. Proyek konservasi warisan budaya juga terancam mandek akibat kekurangan dana dan sumber daya.

Selanjutnya, upaya UNESCO dalam memperkuat jurnalisme, memerangi disinformasi, dan membangun literasi digital global akan berjalan lebih lambat. Ketiadaan AS sebagai mitra strategis juga telah memperlemah jangkauan program tersebut yaitu terutama di wilayah konflik atau negara berisiko tinggi.

Kolaborasi Ilmiah Bisa Terputus

Salah satu ancaman paling nyata adalah terputusnya jaringan penelitian global. UNESCO selama ini memfasilitasi pertukaran data, teknologi, dan ide lintas negara. Ketika AS sudah menarik diri ada banyak inisiatif ilmiah gabungan di mulai dari mitigasi perubahan iklim hingga pemanfaatan AI dalam pendidikan yang akan kehilangan salah satu kontributor terbesarnya.

Selain itu, lembaga-lembaga akademik yang selama ini bermitra dengan UNESCO harus mencari jalur kolaborasi alternatif, yang belum tentu seefektif sebelumnya.

Apa Risiko Jangka Panjangnya?

Mundurnya AS dari UNESCO bukan hanya soal anggaran atau representasi, tetapi menyangkut kredibilitas kepemimpinan global. Dunia bisa menafsirkan langkah ini sebagai sinyal bahwa kerja sama multilateral dianggap kurang penting oleh negara adidaya. Hal ini tentu berdampak pada upaya kolektif menjaga perdamaian dan memperluas akses pendidikan yang adil dan inklusif.

Tak hanya itu saja ada langkah ini yang bisa memicu negara lainnya hanya untuk mengikuti jejak serupa. Jika itu terjadi, eksistensi UNESCO akan terancam. Lembaga ini bisa kehilangan fungsi utamanya sebagai penghubung nilai-nilai universal antarnegara.

Haruskah Dunia Khawatir?

Tentu saja. Meninggalkan UNESCO berarti melemahkan salah satu pilar kerja sama internasional. Meskipun organisasi ini terus berupaya membangun aliansi baru dan meningkatkan efisiensi, kekosongan akibat keluarnya AS tetap sulit digantikan.

Kini, negara-negara anggota dituntut untuk bersatu dan mempertahankan semangat kolektif. Dunia harus bergerak aktif mencari solusi jangka panjang untuk mengisi celah yang ditinggalkan. Ini bukan hanya tugas UNESCO, tapi tanggung jawab bersama demi masa depan generasi mendatang.

More From Author

Mahathir

Mahathir Guncang Politik: Anwar Harus Turun!

Thailand

Thailand Desak Warga Kabur Cepat dari Kamboja yang Panas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *